Bupati Minut Joune Ganda Dampingi Komisi IV DPR RI Kunjungan di Peternakan Babi Modern Desa Batu-Liksel

oleh -635 Dilihat
Bupati Minut Joune Ganda Dampingi Komisi IV DPR RI Kunjungan di Peternakan Babi Modern Desa Batu-Liksel.

PODIUMUTAMA-MINUT, Bupati Kabupaten Minahasa Utara (Minut) Joune Ganda, mendampingi Komisi IV DPR RI dalam kunjungan kerja reses pimpinan dan anggota di PT Sulawesi Optima Wirakarya (PT SOW), Desa Batu, Kecamatan Likupang Selatan (Liksel), Kabupaten Minahasa Utara (Minut).

Kunjungan kerja para wakil rakyat ini untuk melihat langsung pengembangan peternakan babi modern terintegrasi yang dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung pemenuhan kebutuhan daging babi serta pengembangan sektor peternakan di Sulawesi Utara. Jumat, (09/10/2026).

Bupati Minut Joune Ganda dalam kesempatan tersebut menyambut positif kehadiran PT SOW yang menghadirkan sistem peternakan modern dengan dukungan genetika unggul. Dalam kunjungan tersebut, Bupati didampingi Asisten II, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Camat Likupang Selatan.

Bupati Joune Ganda saat diwawancarai wartawan menjelaskan bahwa kunjungan kerja reses pimpinan dan anggota Komisi IV DPR RI tersebut bertujuan melihat secara langsung operasional peternakan babi modern terintegrasi yang berlokasi di Desa Batu.

Menurut Bupati Minut dua periode itu, kehadiran PT SOW patut diapresiasi karena membawa sistem peternakan modern yang disebut sebagai yang pertama di Indonesia, sekaligus membuka peluang pengembangan usaha peternakan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

“Pada hari ini, pimpinan dan anggota DPR RI dari Komisi IV melaksanakan kunjungan kerja reses ke PT SOW yang berada di wilayah Minahasa Utara, khususnya di Desa Batu. Kunjungan ini untuk melihat secara langsung peternakan babi modern terintegrasi,” ujar Joune Ganda.

Ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada PT SOW, khususnya Direktur Andreas Surja Putra, yang telah menghadirkan sistem peternakan modern dengan genetika unggul di Kabupaten Minahasa Utara.

Bupati menilai, pengembangan peternakan tersebut memiliki prospek yang menjanjikan mengingat kebutuhan dan konsumsi daging babi di Sulawesi Utara, termasuk wilayah Indonesia bagian utara, tergolong tinggi.

Dengan adanya perusahaan ini, diharapkan ketersediaan pasokan dapat semakin terjamin, baik dalam bentuk indukan atau bibit ternak unggul maupun hasil akhir berupa daging untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Lebih lanjut, Joune Ganda menekankan bahwa pengembangan usaha PT SOW tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga membangun kemitraan dengan peternak lokal, masyarakat, kalangan akademisi, serta para ahli di bidang peternakan dan kesehatan hewan.

Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk membangun ekosistem peternakan yang saling mendukung, sehingga manfaat ekonomi dari kehadiran perusahaan dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.

“Perusahaan ini juga membangun kemitraan dengan peternak masyarakat, akademisi, dan para ahli hewan. Dengan demikian, ekosistem peternakan bisa terbentuk dan tentunya akan memberikan manfaat serta keuntungan bagi daerah dan masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur PT Sulawesi Optima Wirakarya, Andreas Surja Putra, menjelaskan bahwa salah satu keunggulan peternakan yang dikembangkan perusahaannya terletak pada penerapan sistem *closed house* atau kandang tertutup.

Sistem tersebut memungkinkan perusahaan mengatur kondisi lingkungan di dalam kandang, terutama suhu dan kelembapan, agar ternak memperoleh lingkungan yang optimal untuk tumbuh dan berkembang biak.

Andreas menjelaskan, konsep tersebut memiliki kemiripan dengan sistem peternakan ayam modern yang menerapkan pengendalian lingkungan secara terukur. Namun, pengelolaan peternakan babi yang dikembangkan PT SOW juga disesuaikan dengan karakteristik ternak dan kebutuhan pemuliaan genetika unggul.

“Paling sederhana, sistem di peternakan kami menggunakan *closed house*, seperti peternakan ayam modern yang seluruh kandangnya tertutup. Suhu dan kelembapan kami atur agar hewan ternak mendapatkan lingkungan yang optimal untuk berkembang biak,” ungkap Andreas.

Ia menambahkan, ternak yang dikembangkan merupakan jenis *pure breed* atau galur murni. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan perhatian khusus mengingat ternak dengan karakteristik genetika tersebut dinilai lebih rentan dan memerlukan penanganan yang sesuai.

Dari sisi kapasitas, Andreas menyebutkan bahwa PT SOW memiliki potensi produksi sekitar 7.000 hingga 8.000 ekor.

Dari jumlah tersebut, ternak yang memenuhi kualifikasi akan dipilih sebagai calon indukan untuk mendukung pengembangan populasi dan peningkatan kualitas genetika ternak. Sementara itu, ternak yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai calon indukan akan diarahkan untuk menjadi daging potong atau produk sampingan (by-product).

Terkait pemasaran, Andreas menegaskan bahwa perusahaan saat ini memprioritaskan penyediaan calon indukan bagi peternak, khususnya di Sulawesi Utara.

Fokus tersebut bertujuan memberikan kesempatan kepada peternak lokal untuk memperoleh akses terhadap genetika ternak terbaru, sehingga kualitas dan produktivitas usaha peternakan dapat terus ditingkatkan.

“Karena fokus kami adalah calon indukan, pasokan akan diarahkan terlebih dahulu kepada peternak di Sulawesi Utara agar mereka bisa mendapatkan akses terhadap genetika yang lebih baru,” jelasnya.

Andreas juga mengungkapkan bahwa pengembangan peternakan berbasis genetika baru membutuhkan kesiapan peternak, terutama dalam aspek pengetahuan, manajemen pemeliharaan, dan fasilitas pendukung.

Karena itu, PT SOW berencana terus melakukan edukasi melalui seminar-seminar bagi para peternak, mulai dari tahap persiapan hingga ternak siap diproduksi dan didistribusikan kepada mitra.

Edukasi tersebut akan mencakup pemahaman mengenai cara memperoleh dan memanfaatkan ternak unggul, kebutuhan perubahan fasilitas peternakan, serta penyesuaian manajemen pemeliharaan agar peternak mampu mengelola ternak dengan baik.

Menurut Andreas, langkah ini penting agar ketika peternak nantinya memperoleh akses terhadap genetika unggul dari PT SOW, mereka sudah memiliki bekal pengetahuan yang memadai dan tidak mengalami kesulitan dalam proses penerapannya.

“Karena kami menggunakan genetika yang baru, peternak tentu membutuhkan edukasi dalam hal manajemen. Dari sekarang hingga ternak sudah bisa diproduksi, kami akan melakukan banyak seminar untuk memberikan pemahaman kepada peternak mengenai kebutuhan, fasilitas yang perlu disesuaikan, serta manajemen pemeliharaannya,” katanya.

Ia menegaskan, perusahaan ingin memastikan peternak tidak hanya memperoleh akses terhadap ternak berkualitas, tetapi juga memahami cara pemeliharaan dan pengelolaan yang tepat.

Saat ditanya mengenai pelaksanaan program edukasi tersebut, Andreas menyampaikan bahwa PT SOW telah beberapa kali mengadakan kegiatan sosialisasi dan seminar.

Salah satunya melalui seminar yang dilaksanakan di Manado. Selain itu, perusahaan juga membuka stan atau *booth* dalam pameran ILDEX yang diikuti sebelumnya sebagai bagian dari upaya memperkenalkan program dan pengembangan peternakan yang dijalankan PT SOW.

Kedepan, perusahaan berharap kegiatan seminar dan edukasi dapat diperluas ke sejumlah daerah lainnya.

Meski demikian, Minahasa Utara akan menjadi fokus awal pengembangan kemitraan, sejalan dengan harapan perusahaan untuk membangun model peternakan yang dapat menjadi contoh bagi wilayah lain.

Andreas mengatakan, dukungan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan pengembangan peternakan yang lebih terarah, sekaligus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ternak.

“Kami akan fokus terlebih dahulu di Minahasa Utara. Kami berharap, dengan dukungan pemerintah daerah, apa yang kami lakukan di Minahasa Utara bisa menjadi contoh bagi wilayah lain. Melalui kerja sama, kita dapat melakukan langkah-langkah preventif terhadap penyakit ternak dan mengembangkan populasinya,” tutur Andreas.

Kunjungan kerja reses Komisi IV DPR RI ke PT SOW menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, peternak, akademisi, dan tenaga ahli dalam mendorong kemajuan sektor peternakan.(***)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.