PESK Ramah Lingkungan, Minut Sumbang 58 Persen Pengurangan Limbah Merkuri di Indonesia

oleh -346 Dilihat

PODIUMUTAMA-MINUT, Ramah lingkungan Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) sudah tidak menggunakan mercuri sebagai bahan kimia untuk mengelola emas.

Hal tersebut tak lepas dari peran pemerintah dan UNDP melalui proyek GOLD-ISMIA yang sudah turun mendampingi dua koperasi penambang untuk teknik pengelolaan sejak bulan febuari tahun ini dan pendampingan rintisan koperasi sejauh tahun 2019.

Nasional Project Director GOLD-ISMIA/Direktur Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Yulia Suryanti mengatakan Minut sebagai penyumbang  terbesar pengurangan penggunaan mercuri dengan menurunkan 13,4 ton merkuri atau sebesar 58% dari total pengurangan merkuri.

“Keberhasilan ini busa menjadi tempat belajar (sharing knowledge) bagi penambang dari lokasi proyek lainnya baik penambang dari daerah sekitar Minut ataupun antar penambang di luar Minut” kata Direktur Pengelolaan B3 KLHK Yulia Suryanti, Kamis (15/12/2022).

Sementara itu, dari pantauan media ini saat turun ke lokasi PESK yang mendapat pendampingan dari Proyek GOLD-ISMIA yang ada di desa Talawaan dan Tatelu, yaitu lokasi Koperasi Batu Api desa Talawaan dan Koperasi Tatelu Matuari Mandiri desa Tatelu, proses pengelolaan emas sudah tidak menggunakan Merkuri.

Ketua Koperasi Tatelu Matuari Mandiri Deisy Lausan memberikan apresiasi kepada pemerintah dalam hal ini KLHK, DLH Minut, UNDP dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) atas sumbangsih yang sudah diberikan untuk PESK.

“Tentunya kami sangat berterima kasih kepada pemerintah KLHK, DLH Minut, UNPD dari proyek Gold-ISMIA ini kami banyak merasakan manfaat positif, seperti perintisan awal kami mendirikan koperasi. Banyak pelatihan yang dilakukan untuk penambang, juga bantuan-bantuan lain sebagai penunjang kerja lapangan untuk para penambang. Kami juga memastikan jika pengolahan emas di desa kami sudah tidak lagi menggunakan merkuri. Banyak juga masyarakat yang sadar tentang bahanya merkuri sehingga tidak lagi menggunakan merkuri untuk pengolahan emas” ungkap Lausan

Kepada sejumlah media, Nasional Project Manager Gold-Ismia Baiq Dewi Krisnayati mengatakan, jika proyek ini mengajarkan alternatif pengelolaan emas tergantung metode apa yang dilakukan penambang emas tanpa merkuri.

“Jadi kami mengajarkan para penambang untuk mengelolah emas tanpa menggunakan merkuri, tergantung metode apa yang ingin digunakan. Intinya pertambangan emas dilakukan secara legal dan pengelolaan emasnya tanpa merkuri,” ujar Dewi.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir, Nation Project Director Gold-Ismia/Direktur PB3 KLHK Yulia Suryanti, Head of Environment Unit UNDP Indonesia Aretha Aprilia, Deputy National Project Director Gold-Ismia/Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Pertambangan BRIN Dadan Moh Nurjaman, Communication Unit UNDP Suryo Utomo Tomi, Kadis LH Minut Marthen Simon Sumampouw, Dibas ESDM Provinsi Sulut Julia Pingkan Petra Boeloeran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.