PODIUMUTAMA-MINUT, Selama bertahun-tahun warga Kokoleh 1 Kecamatan Likupang Selatan, Kabulapaten Minahasa Utara (Minut) harus menghadapi sulitnya akses menyeberangi sungai.Kini kehadiran Jembatan Perintis Garuda di wilayah tersebut membawa kebahagiaan bagi warga setempat.
Bupati Minut Joune Ganda, mengatakan jembatan tersebut menghadirkan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat, terutama warga yang tinggal di seberang sungai.
Ia menguraikan jembatan di lokasi tersebut sebenarnya sudah ada sejak lama, bahkan dibangun sejak zaman Belanda.
Namun, karena mengalami kerusakan, akses tersebut tidak lagi dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
“Jembatan ini sudah lama, dari zaman Belanda dibangun kemudian sudah lama rusak,” ujar Joune Ganda, usai meninjau jembatan tersebut, Rabu (02/09/2026).
Kondisi tersebut membuat sekitar 70 hingga 80 kepala keluarga warga di seberang sungai harus menempuh perjalanan memutar untuk menghindari sungai.
Sebagian warga bahkan terpaksa menggunakan akses penyeberangan seadanya untuk mempersingkat perjalanan.
Situasi itu, kata Joune, bukan hanya menyulitkan masyarakat, tetapi juga menyimpan risiko keselamatan.
“Dan tentu ini sangat berbahaya dan sangat menyulitkan masyarakat,” katanya.
Karena itu, pembangunan Jembatan Perintis Garuda disambut antusias oleh masyarakat.
Menurut Joune, warga ikut merasakan euforia pembangunan karena mengetahui kehadiran jembatan tersebut akan sangat membantu aktivitas mereka sehari-hari.
Joune Ganda menilai, pembangunan jembatan tersebut sekaligus menjadi contoh kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI dan masyarakat.
“Ini menunjukkan bahwa kepentingan masyarakat adalah tujuan utama dari pembangunan jembatan ini. Kolaborasi kami tujuannya untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran TNI, khususnya Kodim Bitung-Minahasa Utara, yang terlibat dalam pembangunan jembatan tersebut.
Apresiasi secara khusus disampaikan Joune kepada Pangdam XIII/Merdeka Mayjen TNI Mirza Agus dan Danrem 131/Santiago Brigjen TNI Yuri Elias Mamahi yang datang langsung meninjau kondisi jembatan.
Menurutnya, kehadiran pimpinan TNI tersebut tidak hanya menjadi bagian dari seremoni, tetapi juga menjalankan fungsi kontrol untuk memastikan pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan memiliki kualitas yang baik.
“Kehadiran ini juga untuk betul-betul memastikan apakah masyarakat senang atau tidak, apakah memang kualitas pekerjaannya baik atau tidak. Jadi ada fungsi kontrol yang luar biasa,” tegasnya.
Dari hasil peninjauan tersebut, Joune menyebut kondisi dan kualitas pekerjaan jembatan dinilai sangat baik.
Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, lanjutnya, juga ikut memberikan dukungan teknis melalui Dinas PUPR dalam kolaborasi bersama jajaran TNI untuk memastikan pembangunan dapat memberikan hasil optimal.
Namun, setelah jembatan resmi digunakan, Joune mengingatkan masyarakat agar ikut menjaga fasilitas tersebut.
Sebab, jembatan memiliki batas kapasitas yang harus dipatuhi.
Pada bagian jembatan telah dicantumkan kapasitas maksimal, yakni 1 ton atau maksimal 25 orang.
Karena itu, pada tahap awal penggunaan jembatan, Joune telah meminta pemerintah desa melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak menggunakan jembatan secara berlebihan.
“Jangan bertumpuk di jembatan tersebut. Karena bukan untuk nongkrong, untuk duduk-duduk,” pesannya.
Pemerintah desa juga akan dibantu aparat keamanan desa untuk mengedukasi dan mengawasi masyarakat agar penggunaan jembatan tetap sesuai kapasitas.
Bagi Joune, kepatuhan terhadap batas kapasitas bukan sekadar soal keamanan, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan infrastruktur tersebut.
Ia berharap masyarakat dapat bersama-sama menjaga Jembatan Perintis Garuda agar umur ekonomisnya menjadi lebih panjang.
“Umur ekonomisnya lebih panjang tentu masyarakat juga yang akan mendapatkan manfaat yang lebih baik,” tandasnya.(***)








